Social Icons

Pages

Wednesday, June 24, 2015

Bikin Dummy CONVEYOR (roda berjalan)

Ada proyek bikin mesin "Conveyor", conveyor adalah mesin roda berjalan yang biasa ada di pabrik-pabrik, ukuran, kerumitan, kecepatan dan kecanggihan conveyor relatip, biasanya pabrik menggunakan PLC programmable logic controller untuk sistem digitalnya, harganya mahal namun fiturnya minim, pemrogramannya ga sesulit microcontroller.

Dummy conveyor
Conveyor ini menggunakan microcontroller, conveyor ini difungsikan untuk memotong diagonal plastik kemasan coklat, masalahnya plastik coklat ga sama satu kemasan dengan lainnya, jadi dibuat conveyor untuk menyeleksi plastik satu persatu kemudian memotongnya secara otomatis.
Design mekanik





Design mekanik+roller+solenoid
Objek potong
Ini kondisi asik karena otak ga pernah mau diem bahasa gaulnya "kepikiran" terus mekanisme kerja conveyor idealnya harus seperti apa, selalu setiap mendesign mesin jumlah solusi itu ga pernah kurang, tapi ujung-ujungnya tentu soal efisiensi dengan tidak mengurangi kesempurnaan hasil, mesin harus mudah/murah/sempurna, ampe diatas tempat tidur sekalipun nyoba bikin simulasi, kalo dulu dongeng sebelom bobo, sekarang mikir sebelum bobo, wkwkwk ...


Bicara soal conveyor, printer, CNC, ato yang lainnya sebetulnya termasuk ROBOT, robot yang tidak humanoid, jadi semua step dan pekerjaan dilakukan secara otomatis yang dikendalikan oleh robot.

Stepper motor

Motor stepper digunakan untuk menggerakan objek yang akan dipotong di area sensor agar posisinya bisa tepat diatas pisau potong. Kebanyakan mesin-mesin conveyor digerakan dengan sistem angin, sistem angin biasa digunakan untuk menggerakan arm robot, dengan sistem angin penyelesaian pekerjaan akan jauh lebih cepat, jauh lebih sederhana dan murah dibandingkan menggunakan motor.

Cutter otomatis
Conveyor ini berjalan dan memotong secara otomatis, sequence pekerjaan atau control programnya seperti :
  1. 'Pick mode' (mengambil sempel & mengirim objek potong pada roda berjalan)
  2. 'Scanning sensor' (menentukan tepian potong objek potong, tidak ada delay pada semua fungsi bagi sensor)
  3.  'POS#' (program memberitahukan tepian potong objek potong terdeteksi)
  4. 'Alignment routine' (stepper motor move backward 5 step menempatkan objek potong tepat dibawah pisau)
  5. 'Pressure mode' (solenoid penjepit menjepit objek potong)
  6. ''A' edge sensor checking routine' (memastikan cutter berada diposisi edge 'A', jika tidak program akan melakukan 'Return mode')
  7. 'Cutting mode' (proses memotong, sekaligus setelahnya menonaktipkan 'pressure mode')
  8. 'Return mode' (selenoid cutter on [menaikan pisau cutter] > motor cutter move CCW to 'A' edge, sekaligus 'A' edge dicek jika TRUE program akan memberitahukan bahwa proses cutter siap)
  9. kembali ke 'Pick mode'

Cutter ini digerakan oleh selenoid agar bisa naik turun secara otomatis, cutter ini hanya bergerak diagonal, sementara yang memposisikan objek agar tidak salah potong adalah objek itu sendiri yang diarahkan oleh stepper motor, digunakan stepper motor agar proses penempatan objek potong lebih mudah tidak perlu lagi encoder untuk menginformasikan posisi dan langkah.

Masalah pada stepper motor adalah kecepatan, torsi dan missing step, jika motor dipaksa untuk berputar cepat otomatis motor akan kehilangan torsi yang akan berakibat pada missing step, yang menjadikan objek potong tidak berhenti tepat semestinya pada area potong, karena objek potong tidak sama.

Lebih baik menggunakan motor encoder, hanya prosesnya akan menjadi tidak sederhana, karena harus membuat encoder, stepper motor bisa memberikan informasi palsu kepada otak microcontroller karena stepper motor hanya menerima perintah langkah, misal perintah 10 step forward, stepper hanya melakukannya dan tidak akan mengetahui jika terjadi missing step karena torsi yang jauh berkurang.

Stepper ini digerakan dengan prinsip kerja "two phase" dimaksudkan agar memiliki torsi yang besar, meski begitu stepper ini hanya mampu melakukan rotasi sebesar 1.8 derajat (1 step) dengan waktu 1 mili detik alias seper seribu detik, jika dikurangi jadi mikro detik stepper kehilangan torsi dan hanya mampu berputar jika tanpa beban.

Rel cutter
Rel cutter sementara digunakan dari bekas printer yang dilengkapi dengan edge sensor, haha ... edge sensornya pake sistem cahaya untuk menghindari proses "bounching" and yang jelas biar jadinya lebih sophisticated aja, haha ...


Selenoid presure

Selenoid ini fungsinya untuk memegang kuat atau penjepit objek potong pada saat proses potong sedang berlangsung.

Keluaran conveyor

Setelah dipotong objek potong menjadi 2 bagian dan akan masuk kedalam tempat khusus.

Video Dummy Conveyor part1

Haha ... selama keberlangsungan waktu bergulir terjadi buanyak sekali proses di jagat raya ini, begitu pula pada saat programming conveyor ini, diantaranya program berjalan ga sesuai keinginan, otomatis cek sana-sini, mulai dari coding sampe rangkaian elektronika, selain itu pengecekan ulang sensor dan kalibrasi.

Pas dirasa rangkaian uda ga ada yang keliru (cek lagi satu persatu sampe 5x), itu wajib jadi jangan disepelein, KECEROBOHAN biasanya terjadi di sesi ini biasanya karena over confidence alias kepedean, terlalu yakin semua da ok, buru-buru, dan terakhir MALAS!

Kecerobohan bisa mendatangkan disaster jadi jangan mengandalkan keberuntungan, karena dunia otomatisasi adalah ilmu pasti bukan ilmu keberuntungan, sukur-sukur kecerobohan hanya berdampak pada rusaknya sebagian komponen, tapi bisa juga berdampak pada rusaknya sensor, ato bahkan otaknya sendiri yaitu microcontroller, kalo uda begitu sebut saja GAME OVER.

Lo kudu mulai semua lagi dari awal, beli lagi kaya waktu awal, selain waktu, tenaga, bagian mood and semangat juga bisa kena gangguan, error semuanya dah, so kecerobohan itu jangan dipelihara! Rangkaian rumit dan besar pastinya membosankan kalo kudu cek ulang sampe 5x, inga.....inga....itu semua kembali menjadi tanggung jawab lo!

Haha ... lucu ya conveyornya jadi kaya gadget, asal ngibasin tangan proses cutting berjalan, wkwkwk .... masalahnya da ketemu, masalah ada disensornya, proses kalibrasi sensor secara stand alone, ternyata berbeda dengan kondisi rangkaian penuh, mulai dari input sensor, amper, dsb, bisa jadi biang kerok, yang hasilnya kemampuan seleksi sensor berubah nilai, hasilnya mesin tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Kalo tiap proses potong pada conveyor harus ngibasin tangan dimana otomatisnya coy, wkwkwk ..., hal ini terjadi karena kibasan tangan memberikan nilai tertentu kepada sensor, sementara coding dibuat harus melakukan perintah cutting pada nilai tersebut, wkwkwk .... hiburan dikala semua badan dan otak mulai kelelahan.

Semoga bisa menginspirasi, sorry coding dan rangkaian ga bisa dishare karena beberapa alasan :D

wah dah adzan ne ..... da waktunya buka blom ne ....??"

Sampai ketemu ditulsan-tulisan selanjutnya ....
Post a Comment