Social Icons

Pages

Thursday, September 5, 2013

Lempar KARTU jadi SENJATA ga perlu jadi NINJA

Kita sering nonton di film-film seorang jagoan yang bertenaga dalam mampuni dapat melemparkan kartu bahkan menembus tembok, memutuskan rantai dari jarak jauh, hal ini ninja lakukan sebagai senjata rahasia dalam keadaan  kepepet....jhiah termakan film.




Tapi nanti dulu sebetulnya kita belum tau juga hasilnya, secara fisika tanpa tenaga dalam sekalipun hal ini sangat mungkin sekali terjadi asalkan semua variable terpenuhi, memiliki penguasaan tenaga dalam secara mendalam bukan satu-satunya variabel penentunyakan?


Saya ga akan menjelaskan lebih jauh dan detail mengenai bagaimana cara memegang kartu, cara melempar juga kuda-kuda pra-lemparan kartu, semua itu harus kita temukan sendiri, coba perhatiin cara orang megang pick gitar, ok kita gunakan teknik yang sama yaitu "alternate picking" ... lha ko jadi teknik gitar katanya lempar kartu and jadi ninja dadakan??? 

Hahaha...sabar, ini analogi sederhana ko, bukan suatu kebetulan saya gitaris, haha...baru tau ya?? Ga penting, hahaha...

Ternyata Carlos Santana, Martin Friedman dan beberapa gitaris ternama  lainnya ada yang memegang pick gitar terkesan tidak nyaman untuk dipandang, tapi bagi mereka pegangan seperti itu sangat nyaman, buktinya permainan mereka kita bisa uji, jadi lupakan referensi, jadilah diri sendiri, temukan gaya mu, yang penting secara ilmu fisika lemparan kamu tidak konyol, karena kita tau kalo kartu itu terbuat dari kertas sebagian ada yang terbuat dari plastik, tipis dan sangat ringan, agar dapat melesat lurus dan memiliki kekuatan gaya maksimal maka kartu tidak boleh melawan angin, maka dari itu baiknya kartu berputar, untuk mendapatkan momentum ketika mengenai objek.

Ok secara fisika kita sudah mengerti, saatnya praktek...sebelum praktek ke hal-hal yang lebih menantang uji coba dulu keakuratan lemparan kamu ke sebuah bidang datar yang agak lebar seperti sasaran yang terbuat dari gabus, ati-ati jangan muka orang jadi target awal, kamu belum lulus jadi ninja, hahaha...

Ok ini video lemparan saya bersama beberapa murid, saya tidak mengajarkan mereka cara dan tekniknya, saya hanya melempar dan mereka melihat, dan terbukti kecerdasan seorang anak bisa melakukannya tanpa menunggu lama,  jadi jangan sepelekan anak kecil yang masih polos, justru orang tua ga ada yang berhasil, ngelempar lurus pun ga bisa, malah berisik tanya-tanya....GIMANA CARANYA???


Ketika kita jarang menghadapi masalah, karena kita menganut ajaran masalah adalah kesialan, dan ajaran itu diajarkan disekolah, ga percaya??? Karena ketika sekolah kita terbiasa dikondisikan diberi satu kurikulum dan materi ajaran untuk semua murid, kita dipaksa untuk  mengikuti apa kata guru, kita tidak dikondisikan dan dibebaskan untuk kreatip, bahkan bertanyapun harus dibatasi, disekolah kita bukan mencari ilmu, semua dibuat kaku dan baku, semua sudah diatur dan kita harus mengikutinya, dan ini tidak sesuai dengan cara kerja otak semestinya, maka dari itu wajar jika para murid sulit konsentrasi dikelas, lalu ketika tidak bisa konsentrasi murid diserang dengan lemparan kapur dan penghapus bor, hingga tidak sadar kita menjadi robot, harus nurut secara buta tanpa bisa dimengerti, sebelum dapat menyelesaikan masalah robot harus diisi program dulu, program yang sesuai dengan masalahnya, mangkannya bertanya lebih mudah dari pada berfikir, dan bertanya itu enak dan mudah, padahal berfikir itu justru jauh lebih enak dan menyehatkan jika saja otak kita tidak dikondisikan terbalik oleh sekolah.

Ternyata terbukti sekolah merusak pola pikir kita, kemampuan "survival ability" atau kemampuan adaptasi kita hilang, terbukti tidak sedikit orang mudah sekali stres karena tidak siap menerima kenyataan, konsep berfikir "out of the box" atau merdeka dirubah dan dibonsai menjadi baku dan kaku seperti kotak peti mati yang terpaku rapat.

Setelah bermasyarakat satu-satunya spirit dan semangat yang memotivasi  untuk melakukan sesuatu adalah kesenangan, karena kesenangan itu diajarkan disekolah dengan cara mendapatkan nilai, semua dinilai dari nilai bukan dari aspek lain, contohnya uang, tahta, jabatan dan lawan jenis. 

Karena dengan semua itu kesenangan dapat dibeli dan diraih, maka orang berlomba-lomba secara buta tanpa perlu melihat kompetensi  pada dirinya, hingga pada akhirnya seorang yang bodoh memaksakan diri untuk menjadi pemimpin, memaksakan diri untuk menjadi artis, memaksakan diri untuk menjadi kaya, dan realitanya kita bisa lihat dengan jelas semua tatanan menjadi semerawut dan rusak.

Semua dimulai dari sistem sekolah yang rusak, sejak dini potensi-potensi luhur dan mulia itu dikondisikan agar rusak dan menjadi terbalik, tujuan sekolah adalah mencari ilmu bukan diberi ilmu secara paksa, setiap anak adalah unik, alat ukurnya adalah anak itu sendiri bukan dengan dibanding-bandingkan dengan anak lain dengan dalih umumnya dan normalnya, umum menurut siapa? Normal menurut siapa? Orang tua dan para guru pun tidak akan suka jika dibanding-bandingkan dengan orang tua atau guru yang lain yang jauh lebih baik. Bersifatlah jujur dan elegan.

Sampai ketemu di tulisan-tulisan saya selanjutnya.
Post a Comment